ESD, singkatan dari Electrostatic
Discharge, menurut ESD Association doc#ADV1.0-2004 didefinisikan sebagai
rapid – spontaneous transfer of electrostatic charge between two bodies
at different electrostatic potentials as they approach one another –
usually the charges flow through a spark. Dalam bahasa kita, saya pikir
bisa diterjemahkan bebas sebagai ‘loncatan’ muatan listrik statik dari
suatu objek ke objek yang lain yang mempunyai benda potensial listrik –
umumnya terjadi antara konduktor dengan konduktor. Kata loncatan membawa
pengertian bahwa perpindahan muatan listrik statik berlangsung cepat
(rapid) dalam waktu yang sekejap atau seketika (spontaneous) – sehingga
bisa dibayangkan terjadinya bunga api (spark) setiap kali ada loncatan
listrik statik.
Loncatan atau perpindahan muatan listrik yang terjadi secara cepat ini menyebabkan arus listrik yang dihasilkan sangat tinggi, akibatnya energi panas yang dihasilkannya pun tinggi juga – yang bisa membakar atau melelehkan objek yang dikenainya. Sebaliknya jika perpindahan muatan terjadi secara lambat – misalnya karena ada resistansi (hambatan listrik) permukaan objek – maka arus listrik dan energi yang lebih rendah, sehingga mungkin cukup ‘aman’ dan tidak merusak objek yang terkena. Ini salah satu teknik atau metoda yang digunakan orang untuk mengurangi bahaya ESD di industri elektronik.
Kita semua tahu bahwa petir adalah contoh dari ESD yang paling besar dan menakutkan di alam. Setiap kali terjadi petir, terpancarlah gelombang elektromagnet – yang efeknya bisa kita amati dengan timbulnya gangguan suara (noise) pada gelombang radio. Dengan menggunakan detektor elektromagnetik yang peka, kita akan bisa mendeteksi petir-petir kecil yang kasat mata yang energinya cukup kuat untuk merusak komponen elektronik.
Jika kita mengenal adanya alat penangkap petir untuk mengamankan bangunan atau cara lain untuk menjinakkan sambaran petir, maka kitapun bisa melakukan hal yang sama terhadap petir-petir kecil tersebut yang berpotensi untuk merusak komponen elektronik. Itulah sebabnya dalam industri elektronik, kendali ESD (ESD control) merupakan keharusan. Untuk menerapkan kontrol yang efektif dan efisien, kita mesti mengetahui ambang batas kemampuan komponen elektronik (voltage failure threshold) yang diproduksi sehingga kita bisa menge-set (mengatur) berapa banyak muatan listrik statik yang bisa ditolerir – biasanya dinyatakan dalam voltase atau tegangan listrik.
Biasanya uji atau tes sensitivitas produk terhadap ESD dilakukan mengikuti beberapa model, misalnya Human Body Model (HBM), Machine Model (MM) atau Charged Device Model (CDM). Jika data sensitivitas produk tidak tersedia, maka kita bisa mengikuti aturan standar yang baku, seperti ANSI/ESD S20.20 dari ESD Association. ANSI/ESD S20.20 ini semacam ISO-9000 untuk kontrol ESD.
Kita akan bahas kontrol ESD secara lebih terperinci pada rubrik berikutnya …
Loncatan atau perpindahan muatan listrik yang terjadi secara cepat ini menyebabkan arus listrik yang dihasilkan sangat tinggi, akibatnya energi panas yang dihasilkannya pun tinggi juga – yang bisa membakar atau melelehkan objek yang dikenainya. Sebaliknya jika perpindahan muatan terjadi secara lambat – misalnya karena ada resistansi (hambatan listrik) permukaan objek – maka arus listrik dan energi yang lebih rendah, sehingga mungkin cukup ‘aman’ dan tidak merusak objek yang terkena. Ini salah satu teknik atau metoda yang digunakan orang untuk mengurangi bahaya ESD di industri elektronik.
Kita semua tahu bahwa petir adalah contoh dari ESD yang paling besar dan menakutkan di alam. Setiap kali terjadi petir, terpancarlah gelombang elektromagnet – yang efeknya bisa kita amati dengan timbulnya gangguan suara (noise) pada gelombang radio. Dengan menggunakan detektor elektromagnetik yang peka, kita akan bisa mendeteksi petir-petir kecil yang kasat mata yang energinya cukup kuat untuk merusak komponen elektronik.
Jika kita mengenal adanya alat penangkap petir untuk mengamankan bangunan atau cara lain untuk menjinakkan sambaran petir, maka kitapun bisa melakukan hal yang sama terhadap petir-petir kecil tersebut yang berpotensi untuk merusak komponen elektronik. Itulah sebabnya dalam industri elektronik, kendali ESD (ESD control) merupakan keharusan. Untuk menerapkan kontrol yang efektif dan efisien, kita mesti mengetahui ambang batas kemampuan komponen elektronik (voltage failure threshold) yang diproduksi sehingga kita bisa menge-set (mengatur) berapa banyak muatan listrik statik yang bisa ditolerir – biasanya dinyatakan dalam voltase atau tegangan listrik.
Biasanya uji atau tes sensitivitas produk terhadap ESD dilakukan mengikuti beberapa model, misalnya Human Body Model (HBM), Machine Model (MM) atau Charged Device Model (CDM). Jika data sensitivitas produk tidak tersedia, maka kita bisa mengikuti aturan standar yang baku, seperti ANSI/ESD S20.20 dari ESD Association. ANSI/ESD S20.20 ini semacam ISO-9000 untuk kontrol ESD.
Kita akan bahas kontrol ESD secara lebih terperinci pada rubrik berikutnya …